mekohcollection

Kumpulan tulisan dan perdagangan industri rumahan

Archive for June, 2008


Pejabat Sederhana

Pejabat yang Sederhana

Oleh: Rubina Qurratu’ain Zalfa’

dikutip oleh www.najifa-collection.com

Kini, di manakah Presiden baru Iran tinggal? Tetap di rumahnya yang jelek

(dinding luarnya masih bata, belum ditembok) di kawasan Tehran timur.

Petugas keamanan terpaksa membuat posko keamanan di ujung jalan, mendata

semua tetangga termasuk sanak famili mereka, sehingga orang-orang yang

keluar masuk jalan kecil itu bisa dimonitor. Terakhir, mau tahu apa isi

press release pertama Presiden Iran yang baru terpilih itu? Isinya: Semua

pihak dihimbau untuk tidak memasang iklan ucapan selamat di koran-koran dan

semua kantor dilarang memasang foto presiden!

Itulah sepenggal cerita yang saya baca di sebuah milis, kiriman seorang

warga Indonesia yang tinggal di Iran, tentang kesederhanaan Presiden Iran

Mahmoud Ahmadinejad. Membaca milis itu, saya jadi teringat dengan

kisah-kisah kesederhanaan para pemimpin Islam di masa lalu. Amirul Mukminin

Ali bin Abi Thalib misalnya, saat beliau memegang tampuk pemerintahan kaum

Muslimin di Kufah, kaum Muslim hidup berkecukupan karena pajak dan harta

rampasan dari negara-negara yang berhasil ditaklukan melimpah ke negerinya.

Umat Islam tidak kekurangan makanan dan berpakaian serba indah. Namun sang

pemimpin Ali bin Abi Thalib tetap mengenakan pakaian tua yang sudah lusuh

dan penuh tambalan.

Ketika ditanya mengapa beliau berpakaian seperti itu, Ali bin Abi Thalib

menjawab,”Dengan pakaian seperti ini hati merasa takut dan pikiran merasa

sederhana. Sesungguhnya, dunia ini dan akhirat nanti saling bermusuhan dan

arah jalannya berbeda. Barang siapa mencintai dunia, akan membenci akhirat

dan menjadi musuhnya. Keadaan ini ibarat Timur dan Barat. Apabila seseorang

berjalan mendekati yang satu, maka ia akan menjauh dari yang lainnya…”

Perkataan Amirul Mukminin ini mengisyaratkan, bahwa beliau sangat

berhati-hati menggunakan harta negara. Meski sebagai pemimpin bisa saja

beliau membelanjakan harta negara itu untuk keperluan dirinya, namun

kesederhanaan hidup beliau mencegahnya melakukan hal itu.

Mengingat kisah-kisah semacam ini, membuat saya tersenyum getir. Bukan

karena saya kasihan sama Ahmadinejad yang tembok rumahnya saja belum

diplester bahkan sepatunya saja sudah agak ‘bulukan’. Tapi karena saya

teringat dengan kiprah para pejabat di negara saya sendiri yang malah jadi

kaya begitu memegang jabatan. Jabatan bukan lagi dianggap sebagai amanah

rakyat tapi dijadikan alat untuk menguras harta negara bahkan harta yang

seharusnya menjadi hak rakyat. Saya tidak yakin, kalau pada saat ini ada

pejabat negara di negeri ini yang rumahnya belum diplester seperti rumah

Ahmadinejad, ada pejabat negara yang masih mau mengenakan sepatu yang sudah

‘kusam’ seperti sepatunya Ahmadinejad, ada pejabat negara yang masih mau

berpakaian sesederhana Ali bin Abi Thalib.

Yang sering kita lihat justru para pejabat yang meributkan kenaikan

tunjangan jabatan, kenaikan gaji, saat pemerintah baru saja menaikkan BBM

yang membuat rakyat miskin menjerit. Saya kadang berfikir, tidak punya rasa

empatikah pejabat negara ini atas penderitaan rakyatnya? Tidakkah mereka

membaca koran yang setiap hari memuat berita anak-anak yang menderita gizi

buruk, busung lapar, bahkan anak-anak yang bunuh diri karena malu hanya

karena tidak mampu beli seragam pramuka dan tidak mampu membayar uang

sekolah? Saya cuma bisa mengelus dada tiap kali membaca atau menyaksikan

berita-berita semacam itu di media massa. Sedemikian parahnyakah kemiskinan

yang menimpa bangsa saya? Sementara para pejabatnya begitu mudahnya

mendapatkan uang negara dengan dalih studi banding ke luar negeri, uang

tunjangan jabatan, kenaikan gaji dan sebagainya….

Menyedihkan memang. Tugas menjadi pejabat negara memang berat tapi haruskah

dihargai dalam bentuk materi yang berlebihan? Bukankah seorang pengemban

amanah rakyat justru harus rela berkorban dan memilih sensitifitas yang

lebih tinggi atas kesulitan masyarakat di sekitarnya? Rasanya akan terlalu

panjang pertanyaan yang akan dilontarkan jika kita melihat ketimpangan

semacam ini. Namun, bisa jadi semua itu karena sebagian pejabat kita enggan

untuk hidup sederhana dan kurang bisa merasakan kesulitan rakyat. Kelebihan

harta sudah mengubah gaya hidup dan membuat mereka lupa akan idealisme serta

cita-cita mulia sebagai pengayom rakyat. Melihat kondisi semacam ini,

benarlah apa sabda Baginda Nabi Muhammad Saw, “Sesungguhnya di antara yang

aku khawatirkan atas kalian sepeninggalku nanti ialah terbuka lebarnya

kemewahan dan keindahan dunia ini padamu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ya, kemewahan dan gemerlapnya dunia kadang membuat manusia lupa bahwa masih

banyak orang yang hidupnya termarjinalkan karena kesulitan ekonomi yang

melilit. Padahal Allah swt dalam surat At-Takasur mengingatkan bahwa

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur,”

dan di akhir surat itu Allah Swt berfirman,”Kemudian kamu pasti akan

ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia

itu).”

Dalam suratnya yang lain, Allah mengingatkan..”.. Makan dan minumlah tetapi

jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang

berlebih-lebihan.” (QS 7: 31)

Islam selalu menganjurkan umatnya untuk hidup sederhana. Karena

kesederhanaan bisa menghapus jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.

Alangkah indahnya, jika para pejabat kita juga mau memberi contoh untuk

hidup sederhana, apalagi mereka digaji dari uang rakyat. Dalam konteks

sekarang ini, mungkin mereka bisa mencontoh kesederhanaan Ahmadinejad,

Presiden Iran itu. Wallahualam.*** kunjungi www.najifa-collection.com