mekohcollection

Kumpulan tulisan dan perdagangan industri rumahan

Archive for May, 2008


Sang Juara

Sang Juara

Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab, ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab, memang begitulah peraturannya.

Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya.

Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip di atasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 “pembalap” kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya.

Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan yang tertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian. Ia berkata,” Ya, aku siap!”.

Dor!.Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak- sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing. “Ayo..ayo.. cepat..cepat, maju…maju..”, begitu teriak mereka. Ahha… sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan, Mark lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. “Terima kasih”.

Saat pembagian piala tiba. Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya. “Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepadaTuhan agar kamu menang, bukan?”. Mark terdiam. “Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan” kata Mark.

Ia lalu melanjutkan,”Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongmu mengalahkan orang lain.”Aku, hanya bermohon kepada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah”. Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk tangan yang memenuhi ruangan.

Renungan:
Anak-anak tampaknya lebih punya kebijaksanaan disbanding kita semua. Mark, tidaklah bermohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap ujian. Mark, tak memohon Tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Tuhan mengabulkan semua harapannya. Ia tak berdoa untuk menang, dan menyakiti yang lainnya. Namun, Mark bermohon pada Tuhan, agar diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberikan kemuliaan, dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga.

Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan untuk berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan setiap permintaan kita.Terlalu sering juga kita meminta Tuhan untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik,menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa pada Tuhan, untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata. Padahal, bukankah yang kita butuhkan adalah bimbingan-Nya, tuntunan-Nya, dan panduan-Nya?

Kita, sering terlalu lemah untuk percaya bahwa saat kita kuat. Kita sering lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui? Saya yakin, Tuhan memberikan kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah,cengeng dan mudah menyerah. Sesungguhnya, Tuhan sedang menguji setiap hamba-Nya yang shaleh.

(Thank you for Irfan)

Garam dan Telaga

Garam dan Telaga

Suatu ketika,hiduplah seorang tua yang bijak.Pada suatu pagi, datanglah seoarang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak hanya
mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta
tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas,
lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya…”,
ujar Pak tua itu. “Pahit.Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil menjulurkan lidahnya karena kepahitan. Pak tua itu, sedikit tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya ini,
untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.
Pak tua itu lalu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu.
Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang, mengaduk-aduk dan tercipta riak air,
mengusik ketenangan telaga itu. “Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah”.
Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.
“SEGAR..”, sahut tamunya. “Apakah kamu merasakan garam dalam air itu?”, tanya Pak tua lagi. “Tidak”, jawab si anak muda. Dengan bijak Pak tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga,
“Anak muda…,dengarlah. Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam,
tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. “Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskan hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu”.
Pak tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu adalah wadah itu.
Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya.
Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”
Keduanya lalu beranjak pulang.
Mereka sama-sama belajar hari itu.
Dan Pak tua, si orang bijak itu,
kembali menyimpan “Segenggam garam”,
untuk anak muda yang lain,
yang sering datang padanya membawa
keresahan jiwa.

Menjadi Ayam atau Elang?

Seorang petani menemukan telur elang dan
menempatkannya bersama telur ayam yang
sedang dierami induknya. Setelah menetas,
elang itu hidup dan berperilaku persis seperti
anak ayam, karena mengira dirinya memang
anak ayam.

Pada suatu hari, ia melihat seekor elang yang
dengan gagah terbang mengarungi angkasa.
“Wow, luar biasa! Siapakah itu?”, katanya penuh
kekaguman. “Itulah elang, raja segala burung!”
sahut ayam disekitarnya. “Kalau saja kita bisa
terbang ya? Luar biasa!”
Para ayam menjawab,”Ah, jangan mimpi!
Dia makhluk angkasa, sedang kita hanya makhluk
bumi. Kita hanya ayam!”
Demikianlah, elang itu makan, minum, menjalani
hidup dan akhirnya mati sebagai seekor ayam.

Nasib sepenuhnya ada di tangan kita. Langkah
pertama untuk memulai perubahan adalah menyadari
bahwa perubahan itu ada di tangan kita sendiri. Dalam
agama dikatakan, “Tuhan tidak akan mengubah nasib
suatu kaum kalau kaum itu tidak merubahnya sendiri.”
Maka untuk bisa berubah kita harus bergantung pada
diri kita sendiri. Perubahan nasib tidak akan datang
dari pergantian pemerintahan. Mau Soeharto, Habibie,
Gus Dur, Megawati atau SBY, sama saja. Perubahan
itu harus kita lakukan sendiri.

Benar bahwa kita tak dapat memilih lingkungan kita,
tapi kita selalu bisa memilih respon, kita selalu mampu
memilih tindakan kita. Memang ada hal-hal di dunia ini
yang berada di luar kekuasaan kita. Kita tak bisa menentukan
siapa orang tua kita, jenis kelamin kita, tempat kita dilahirkan,
cara kita dibesarkan, bakat yang kita miliki dan sebagainya.
Kebanyakan kitapun tak mempunyai kekuasaan untuk
menentukan percaturan politik di negeri ini. Tapi kita
senantiasa bisa menentukan perilaku kita, kita bisa
mengontrol apa yang akan kita lakukan.

Kesadaran bahwa nasib ada di tangan kita sendiri akan
memberikan dampak yang signifikan dalam hidup kita.
Kita punya kemampuan menentukan apa yang akan kita
perbuat. Kita punya kemampuan penuh untuk menentukan
skenario hidup kita. Akan jadi apakah kita 5, 10 atau 20 tahun
lagi. Benar, akan ada pengaruh dari luar. Tapi Anda hanya
dipengaruhi bukan ditentukan!

Sikap inilah yang disebut sebagai bertanggung jawab,
responsibility, yang berasal dari kata response+ability,
yaitu kemampuan untuk melakukan respon terhadap
situasi apapun. Respon adalah hasil keputusan kita sendiri,
bukan ditentukan oleh situasi yang kita hadapi.

Kesadaran semacam itu akan membuka mata kita bahwa
kita bisa menjadi apapun yang kita mau. Gunakan daya
imajinasi Anda dan bayangkan diri Anda 10 tahun lagi.
Ingin jadi apakah Anda? Dalami diri Anda dan kenalilah
bakat-bakat dan potensi Anda yang terdalam. Bakat-bakat
ini boleh jadi telah terkubur oleh situasi dan kondisi, padahal
kalau dimunculkan Anda akan mengalami perubahan hidup
yang dahsyat. Di dunia ini tak ada yang tak mungkin. Kitalah
yang sering “menggembok” diri kita dengan berbagai label
yang diciptakan lingkungan maupun diri kita sendiri.

Dengan melakukan hal tersebut anda akan menemukan
sesuatu yang menggairahkan. dan siapa tahu, Andapun
bisa terbang setinggi elang diangkasa.

Terima Kasih

Terima kasih saya ucapkan kepada Daddigdug.com yang telah memberi saya kepercayaan untuk bisa membuat blog. Terus terang saya senang sekali, karena ini merupakan kali pertama saya memiliki blog.
Harapan saya semoga saya bisa mengisi blog saya dengan isi yang bermutu.Amin.
Sekali lagi terima kasih.

Regard’s

Eko

Selamat Datang di dagdigdug

Selamat Datang di dagdigdug.com. Ini posting pertamamu , Ekspresikan perasaanmu. Ngebloglah sekarang juga !