mekohcollection

Kumpulan tulisan dan perdagangan industri rumahan

Pejabat Sederhana

Pejabat yang Sederhana

Oleh: Rubina Qurratu’ain Zalfa’

dikutip oleh www.najifa-collection.com

Kini, di manakah Presiden baru Iran tinggal? Tetap di rumahnya yang jelek

(dinding luarnya masih bata, belum ditembok) di kawasan Tehran timur.

Petugas keamanan terpaksa membuat posko keamanan di ujung jalan, mendata

semua tetangga termasuk sanak famili mereka, sehingga orang-orang yang

keluar masuk jalan kecil itu bisa dimonitor. Terakhir, mau tahu apa isi

press release pertama Presiden Iran yang baru terpilih itu? Isinya: Semua

pihak dihimbau untuk tidak memasang iklan ucapan selamat di koran-koran dan

semua kantor dilarang memasang foto presiden!

Itulah sepenggal cerita yang saya baca di sebuah milis, kiriman seorang

warga Indonesia yang tinggal di Iran, tentang kesederhanaan Presiden Iran

Mahmoud Ahmadinejad. Membaca milis itu, saya jadi teringat dengan

kisah-kisah kesederhanaan para pemimpin Islam di masa lalu. Amirul Mukminin

Ali bin Abi Thalib misalnya, saat beliau memegang tampuk pemerintahan kaum

Muslimin di Kufah, kaum Muslim hidup berkecukupan karena pajak dan harta

rampasan dari negara-negara yang berhasil ditaklukan melimpah ke negerinya.

Umat Islam tidak kekurangan makanan dan berpakaian serba indah. Namun sang

pemimpin Ali bin Abi Thalib tetap mengenakan pakaian tua yang sudah lusuh

dan penuh tambalan.

Ketika ditanya mengapa beliau berpakaian seperti itu, Ali bin Abi Thalib

menjawab,”Dengan pakaian seperti ini hati merasa takut dan pikiran merasa

sederhana. Sesungguhnya, dunia ini dan akhirat nanti saling bermusuhan dan

arah jalannya berbeda. Barang siapa mencintai dunia, akan membenci akhirat

dan menjadi musuhnya. Keadaan ini ibarat Timur dan Barat. Apabila seseorang

berjalan mendekati yang satu, maka ia akan menjauh dari yang lainnya…”

Perkataan Amirul Mukminin ini mengisyaratkan, bahwa beliau sangat

berhati-hati menggunakan harta negara. Meski sebagai pemimpin bisa saja

beliau membelanjakan harta negara itu untuk keperluan dirinya, namun

kesederhanaan hidup beliau mencegahnya melakukan hal itu.

Mengingat kisah-kisah semacam ini, membuat saya tersenyum getir. Bukan

karena saya kasihan sama Ahmadinejad yang tembok rumahnya saja belum

diplester bahkan sepatunya saja sudah agak ‘bulukan’. Tapi karena saya

teringat dengan kiprah para pejabat di negara saya sendiri yang malah jadi

kaya begitu memegang jabatan. Jabatan bukan lagi dianggap sebagai amanah

rakyat tapi dijadikan alat untuk menguras harta negara bahkan harta yang

seharusnya menjadi hak rakyat. Saya tidak yakin, kalau pada saat ini ada

pejabat negara di negeri ini yang rumahnya belum diplester seperti rumah

Ahmadinejad, ada pejabat negara yang masih mau mengenakan sepatu yang sudah

‘kusam’ seperti sepatunya Ahmadinejad, ada pejabat negara yang masih mau

berpakaian sesederhana Ali bin Abi Thalib.

Yang sering kita lihat justru para pejabat yang meributkan kenaikan

tunjangan jabatan, kenaikan gaji, saat pemerintah baru saja menaikkan BBM

yang membuat rakyat miskin menjerit. Saya kadang berfikir, tidak punya rasa

empatikah pejabat negara ini atas penderitaan rakyatnya? Tidakkah mereka

membaca koran yang setiap hari memuat berita anak-anak yang menderita gizi

buruk, busung lapar, bahkan anak-anak yang bunuh diri karena malu hanya

karena tidak mampu beli seragam pramuka dan tidak mampu membayar uang

sekolah? Saya cuma bisa mengelus dada tiap kali membaca atau menyaksikan

berita-berita semacam itu di media massa. Sedemikian parahnyakah kemiskinan

yang menimpa bangsa saya? Sementara para pejabatnya begitu mudahnya

mendapatkan uang negara dengan dalih studi banding ke luar negeri, uang

tunjangan jabatan, kenaikan gaji dan sebagainya….

Menyedihkan memang. Tugas menjadi pejabat negara memang berat tapi haruskah

dihargai dalam bentuk materi yang berlebihan? Bukankah seorang pengemban

amanah rakyat justru harus rela berkorban dan memilih sensitifitas yang

lebih tinggi atas kesulitan masyarakat di sekitarnya? Rasanya akan terlalu

panjang pertanyaan yang akan dilontarkan jika kita melihat ketimpangan

semacam ini. Namun, bisa jadi semua itu karena sebagian pejabat kita enggan

untuk hidup sederhana dan kurang bisa merasakan kesulitan rakyat. Kelebihan

harta sudah mengubah gaya hidup dan membuat mereka lupa akan idealisme serta

cita-cita mulia sebagai pengayom rakyat. Melihat kondisi semacam ini,

benarlah apa sabda Baginda Nabi Muhammad Saw, “Sesungguhnya di antara yang

aku khawatirkan atas kalian sepeninggalku nanti ialah terbuka lebarnya

kemewahan dan keindahan dunia ini padamu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ya, kemewahan dan gemerlapnya dunia kadang membuat manusia lupa bahwa masih

banyak orang yang hidupnya termarjinalkan karena kesulitan ekonomi yang

melilit. Padahal Allah swt dalam surat At-Takasur mengingatkan bahwa

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur,”

dan di akhir surat itu Allah Swt berfirman,”Kemudian kamu pasti akan

ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia

itu).”

Dalam suratnya yang lain, Allah mengingatkan..”.. Makan dan minumlah tetapi

jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang

berlebih-lebihan.” (QS 7: 31)

Islam selalu menganjurkan umatnya untuk hidup sederhana. Karena

kesederhanaan bisa menghapus jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.

Alangkah indahnya, jika para pejabat kita juga mau memberi contoh untuk

hidup sederhana, apalagi mereka digaji dari uang rakyat. Dalam konteks

sekarang ini, mungkin mereka bisa mencontoh kesederhanaan Ahmadinejad,

Presiden Iran itu. Wallahualam.*** kunjungi www.najifa-collection.com

Sang Juara

Sang Juara

Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab, ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab, memang begitulah peraturannya.

Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya.

Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip di atasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri.

Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 “pembalap” kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya.

Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan yang tertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian. Ia berkata,” Ya, aku siap!”.

Dor!.Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak- sorai, bersemangat, menjagokan mobilnya masing-masing. “Ayo..ayo.. cepat..cepat, maju…maju..”, begitu teriak mereka. Ahha… sang pemenang harus ditentukan, tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan, Mark lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. “Terima kasih”.

Saat pembagian piala tiba. Mark maju ke depan dengan bangga. Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya. “Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepadaTuhan agar kamu menang, bukan?”. Mark terdiam. “Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan” kata Mark.

Ia lalu melanjutkan,”Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongmu mengalahkan orang lain.”Aku, hanya bermohon kepada Tuhan, supaya aku tak menangis, jika aku kalah”. Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk tangan yang memenuhi ruangan.

Renungan:
Anak-anak tampaknya lebih punya kebijaksanaan disbanding kita semua. Mark, tidaklah bermohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap ujian. Mark, tak memohon Tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Tuhan mengabulkan semua harapannya. Ia tak berdoa untuk menang, dan menyakiti yang lainnya. Namun, Mark bermohon pada Tuhan, agar diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberikan kemuliaan, dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga.

Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan untuk berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan setiap permintaan kita.Terlalu sering juga kita meminta Tuhan untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik,menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa pada Tuhan, untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata. Padahal, bukankah yang kita butuhkan adalah bimbingan-Nya, tuntunan-Nya, dan panduan-Nya?

Kita, sering terlalu lemah untuk percaya bahwa saat kita kuat. Kita sering lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui? Saya yakin, Tuhan memberikan kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah,cengeng dan mudah menyerah. Sesungguhnya, Tuhan sedang menguji setiap hamba-Nya yang shaleh.

(Thank you for Irfan)

Garam dan Telaga

Garam dan Telaga

Suatu ketika,hiduplah seorang tua yang bijak.Pada suatu pagi, datanglah seoarang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak hanya
mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta
tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu ke dalam gelas,
lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya…”,
ujar Pak tua itu. “Pahit.Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil menjulurkan lidahnya karena kepahitan. Pak tua itu, sedikit tersenyum. Ia lalu mengajak tamunya ini,
untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.
Pak tua itu lalu kembali menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu.
Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang, mengaduk-aduk dan tercipta riak air,
mengusik ketenangan telaga itu. “Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah”.
Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.
“SEGAR..”, sahut tamunya. “Apakah kamu merasakan garam dalam air itu?”, tanya Pak tua lagi. “Tidak”, jawab si anak muda. Dengan bijak Pak tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga,
“Anak muda…,dengarlah. Pahitnya kehidupan adalah layaknya segenggam garam,
tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama. “Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskan hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu”.
Pak tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu adalah wadah itu.
Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya.
Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”
Keduanya lalu beranjak pulang.
Mereka sama-sama belajar hari itu.
Dan Pak tua, si orang bijak itu,
kembali menyimpan “Segenggam garam”,
untuk anak muda yang lain,
yang sering datang padanya membawa
keresahan jiwa.

Menjadi Ayam atau Elang?

Seorang petani menemukan telur elang dan
menempatkannya bersama telur ayam yang
sedang dierami induknya. Setelah menetas,
elang itu hidup dan berperilaku persis seperti
anak ayam, karena mengira dirinya memang
anak ayam.

Pada suatu hari, ia melihat seekor elang yang
dengan gagah terbang mengarungi angkasa.
“Wow, luar biasa! Siapakah itu?”, katanya penuh
kekaguman. “Itulah elang, raja segala burung!”
sahut ayam disekitarnya. “Kalau saja kita bisa
terbang ya? Luar biasa!”
Para ayam menjawab,”Ah, jangan mimpi!
Dia makhluk angkasa, sedang kita hanya makhluk
bumi. Kita hanya ayam!”
Demikianlah, elang itu makan, minum, menjalani
hidup dan akhirnya mati sebagai seekor ayam.

Nasib sepenuhnya ada di tangan kita. Langkah
pertama untuk memulai perubahan adalah menyadari
bahwa perubahan itu ada di tangan kita sendiri. Dalam
agama dikatakan, “Tuhan tidak akan mengubah nasib
suatu kaum kalau kaum itu tidak merubahnya sendiri.”
Maka untuk bisa berubah kita harus bergantung pada
diri kita sendiri. Perubahan nasib tidak akan datang
dari pergantian pemerintahan. Mau Soeharto, Habibie,
Gus Dur, Megawati atau SBY, sama saja. Perubahan
itu harus kita lakukan sendiri.

Benar bahwa kita tak dapat memilih lingkungan kita,
tapi kita selalu bisa memilih respon, kita selalu mampu
memilih tindakan kita. Memang ada hal-hal di dunia ini
yang berada di luar kekuasaan kita. Kita tak bisa menentukan
siapa orang tua kita, jenis kelamin kita, tempat kita dilahirkan,
cara kita dibesarkan, bakat yang kita miliki dan sebagainya.
Kebanyakan kitapun tak mempunyai kekuasaan untuk
menentukan percaturan politik di negeri ini. Tapi kita
senantiasa bisa menentukan perilaku kita, kita bisa
mengontrol apa yang akan kita lakukan.

Kesadaran bahwa nasib ada di tangan kita sendiri akan
memberikan dampak yang signifikan dalam hidup kita.
Kita punya kemampuan menentukan apa yang akan kita
perbuat. Kita punya kemampuan penuh untuk menentukan
skenario hidup kita. Akan jadi apakah kita 5, 10 atau 20 tahun
lagi. Benar, akan ada pengaruh dari luar. Tapi Anda hanya
dipengaruhi bukan ditentukan!

Sikap inilah yang disebut sebagai bertanggung jawab,
responsibility, yang berasal dari kata response+ability,
yaitu kemampuan untuk melakukan respon terhadap
situasi apapun. Respon adalah hasil keputusan kita sendiri,
bukan ditentukan oleh situasi yang kita hadapi.

Kesadaran semacam itu akan membuka mata kita bahwa
kita bisa menjadi apapun yang kita mau. Gunakan daya
imajinasi Anda dan bayangkan diri Anda 10 tahun lagi.
Ingin jadi apakah Anda? Dalami diri Anda dan kenalilah
bakat-bakat dan potensi Anda yang terdalam. Bakat-bakat
ini boleh jadi telah terkubur oleh situasi dan kondisi, padahal
kalau dimunculkan Anda akan mengalami perubahan hidup
yang dahsyat. Di dunia ini tak ada yang tak mungkin. Kitalah
yang sering “menggembok” diri kita dengan berbagai label
yang diciptakan lingkungan maupun diri kita sendiri.

Dengan melakukan hal tersebut anda akan menemukan
sesuatu yang menggairahkan. dan siapa tahu, Andapun
bisa terbang setinggi elang diangkasa.

Terima Kasih

Terima kasih saya ucapkan kepada Daddigdug.com yang telah memberi saya kepercayaan untuk bisa membuat blog. Terus terang saya senang sekali, karena ini merupakan kali pertama saya memiliki blog.
Harapan saya semoga saya bisa mengisi blog saya dengan isi yang bermutu.Amin.
Sekali lagi terima kasih.

Regard’s

Eko

Selamat Datang di dagdigdug

Selamat Datang di dagdigdug.com. Ini posting pertamamu , Ekspresikan perasaanmu. Ngebloglah sekarang juga !